Senin, 16 November 2020

Tertawa

Mazmur 2:4
Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka.

Tuhan yang kita kenal dengan keagungan dan kemegahanNya juga menunjukkan ekpresi tertawa ketika mengolok-olok musuhNya. Tertawa sendiri dipisahkan menjadi 4 bagian menurut maksudnya yang positif atau negatif.

1. Joy Master (membuat bahagia), tawa positif
2. Life Mocker (menghina, mengejek, mengolok-olok), tawa negatif
3. Joke Maker (lelucon), tawa bisa positif bisa negatif
4. Fun Meister (bersenang-senang), bisa positif bisa negatif

Kita bisa melihat dari kisah Abraham dan Sara yang keduanya didapati tertawa terhadap janji Tuhan bahwa mereka akan diberikan keturunan. Namun ternyata ada tawa yang dikenanNya dan tidak. Abraham dalam Kej 17:17 tertunduk kemudia tertawa sembari bertanya dalam hati akankah dia dalam umur nya yang sudah tua akan mendapati seorang anak. Dan dalam Kej 18:12 Sara tertawa juga dalam hati apakah dia akan berahi pada umurnya yang sudah tua?

Tawa kedua orang ini sangat berbeda karena Abraham tertawa karena sukacita, sedangkan Sara tertawa mengejek. Kepada Sara, Tuhan menegur karena ketidakpercayaannya akan melahirkan sebuah keturunan. Dan ketika anaknya yang bernama Ishak lahir, arti nama Ishak sendiri adalah tertawa.

Jika digolongkan menurut maksud tadi, tertawa Abraham masuk ke Joy Master. Sedangkan Sara Life Mocker. Tertawalah karena sukacita besar yaitu Tuhan sendiri yang telah turun ke dunia sebagai manusia yang tidak berdosa namun mati ganti kita untuk menebus dosa kita.

Lesu Karena Mengeluh

Mazmur 6:6-7
6 Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.
7 Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.

Pasal ini membicarakan tentang kengerian kematian (Ibrani מָוֶת - MAVET, death; death by violence (as a penalty) ; state of death, place of death) yang merujuk kepada "dunia orang mati" (Ibrani שְׁאוֹל - SYE'OL) apabila Daud tidak mendapatkan pengampunan. MAVET atau SYE'OL suatu tempat kengerian yaitu tempat kematian orang-orang jahat.

Daud memohon-mohon agar SYE'OL itu jangan menjadi miliknya, dan olehnya Daud berkata "janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu," (ayat 2). Dan dari ayat 2 ini Daud memberikan kalimat persuatif kepada Allah pada ayat 6 bahwa kalau ia dihukum dan berada di dalam dunia orang mati (SYE'OL) ia tidak akan dapat lagi memberikan pengucapan syukur dan peringatan akan kebaikan Allah yang sebelum-sebelunya pernah ia terima.

Yang Daud inginkan adalah pertobatan penuh supaya Tuhan menyelamatkan dia dari dunia orang mati yang ditimbulkan krn kesalahan dan dosanya. Yang terjadi ketika Daud pergi ke dunia orang mati adalah Daud tidak dapat lagi menyembah Allah.

Perikop ini mengingatkan tentang Lukas 16:19-31 yang berjudul Orang kaya dan Lazarus yang miskin. Yang keduanya mati, namun Lazarus pergi ke pangkuan Abraham sedangkan orang kaya masuk ke dunia orang mati. Karena orang kaya ini telah menikmati segala yang enak di dunia, sedangkan Lazarus tidak. Dunia menawarkan hal yang membuat daging kita disukakan. Padahal dalam Yakobus 4:4 dikatakan "persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah".

Jangan seperti orang kaya yang menyesal setelah dia masuk ke dunia orang mati yang penuh ratap tangis dan kertak gigi. Namun jadilah seperti Daud yang lesu karena mengeluh untuk mendapat pengampunan dan keselamatan dari Tuhan supaya tidak ke dunia orang mati.

Rabu, 11 November 2020

Keadaan Ilahi

Kis 17:28-30
28 Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.
29 Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia.
30 Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.

Saulus bermaksud melukiskan kenyataan dengan suatu kata-kata yang sudah dikenal pendengarnya dalam syair-syair Yunani, bahwa semua orang berasal dari Allah dalam artian bahwa mereka adalah makhluk ciptaanNya dan hidup mereka ini bergantung kepadaNya. Allah adalah Bapa dari semua orang dan bahwa manusia adalah saling bersaudara berdasarkan fakta bahwa semua orang diciptakan oleh Allah.

Karena Allah adalah pencipta manusia, maka Ia pasti lebih besar daripada manusia. Oleh sebab itu, menyamakan Allah dengan ‘sesuatu yang dibuat’ atau ‘yang dibayangkan’ oleh manusia kemudian ‘diserupakan’ dalam bentuk patung atau benda berhala lainnya adalah kebodohan yang paling hebat.

Oleh karena itu, jika kita mencoba memperbaiki keadaan buruk yang kita alami dengan mereka-rekakan yang membuat suasana hati menjadi baik dengan kegiatan-kegiatan di luar Tuhan, semuanya akan menjadi sia-sia. Banyak yang menjadikan minuman keras, club, tiktok, hedonisme, dan banyak lagi menjadi pelampiasan untuk "memperbaiki mood" yang sedang tidak bagus.

Daripada mencari sesuatu yang bersifat sementara, yang kita perlukan hanya perlu bertobat menyesali setiap dosa pelanggaran kita supaya Tuhan mengampuni dan memberikan kita damai sejahtera. Yang perlu diingat bahwa kita adalah keturunan Allah dan keadaan ilahi kita tidaklah sama dengan yang dibuat oleh manusia. Biarkan Tuhan yang terus mempengaruhi kita dalam segala keadaan!

Selasa, 10 November 2020

Fathering is a Marathon

Ken R. Canfield, Ph.D., The National Center for Fathering

"I like to compare the job of a father to that of a long-distance runner. Fathering is a marathon—a long and often trying journey—and we must be disciplined if we hope to finish successfully."

Yitro memberi tahu Musa untuk memilih hakim supaya membantu Musa memberi keputusan atas setiap masalah-masalah yang dialami bangsa Israel. Seorang bapak sangat tau bagaimana dia harus berfungsi dengan baik membantu anaknya yang sedang kewalahan. Dan saat itupun orang-orang Israel belum tentu tau bahwa keputusan Musa mengangkat hakim itu karena saran dari Yitro.

Bapak berbicara tentang fungsi bukan posisi. Fungsi seorang bapak adalah membimbing anaknya sehingga ia sampai ke tujuan. Posisi Yitro saat itu bukanlah seorang raja yang sepantaran dengan Musa. Tapi kebijaksanaannya dan hikmatnya yang membuat dia lebih tinggi dari Musa sehingga dia bisa memberikan saran yang demikian. Secara tidak langsung posisinya yang tidak terlihat ini sebenarnya lebih tinggi dari posisi Musa.

Menjadi Bapak tidak perlu harus kelihatan, tapi dampaknya harus bisa dirasakan. Seorang anak yang juara dalam berlomba. Tidak akan ada yang bertanya nama bapaknya siapa, tapi orang yang menyaksikan lomba tau bahwa bapanya mendidik dia dengan baik hingga anak ini menjadi juara. Dampak nya terlihat ketika anak ini menjadi juara di bidangnya. Itulah seorang bapak.

Dan menjadi bapak bukanlah perkara yang mudah karena menjadi bapak adalah tentang berproses sementara anak sedang didewasakan. Anak gagal, anak jatuh, anak tidak berhasil adalah bagian dari proses pembapakan, proses selesai ketika sang anak sudah sampai tujuan. Oleh karena itu saya setuju dengan apa yang dikatakan Ken tentang pembapakan adalah seperti maraton, sebuah perjalanan panjang dan kita harus mendisiplinkan diri jika kita ingin mengakhirinya dengan baik.

Billy Graham mengatakan "A good father is one of the most unsung, unpraised, unnoticed, and yet one of the most valuable assets in our society." Bapak yang baik adalah bapak yang tanpa tanda jasa, tidak dipuji, tidak terlalu mencolok, tetapi ia adalah aset yang sangat berharga di sekitar kita.

Trust

Pesan ini saya dapatkan waktu tengah berdoa di ibadah umum sore offline kala itu. Dengan keadaan fisik yang lemah karena kecapekan, tapi tetap memaksa diri untuk tetap beribadah, justru dalam keadaan seperti itu Tuhan berbicara kuat.

Salah satu hal baik tinggal dalam sebuah keluarga adalah kita mendapatkan orang-orang yang akan membantu meringankan beban, menyembuhkan luka, dan akan selalu menggandeng tangan kita supaya kita tidak tertinggal dalam sebuah perjalanan. Betapa menyenangkannya tinggal dalam sebuah keluarga!

Amsal 27:17 (TB) TB: Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya
Amsal 27:17 (Jawa 1994) Jawa 1994: Wesi landhepé menawa diasah nganggo wesi; semono uga manungsa dadi pinter merga sesrawungan karo pepadhané.

Menarik nya dalam terjemahan bahasa jawa, ada kata-kata yang dipertajam. Dalam Terjemahan Baru disebutkan orang menajamkan sesamanya. Dalam Bahasa Jawa 1994 disebutkan semono uga manungsa dadi pinter merga sesrawungan karo pepadhane. Jika terjemahan Bahasa Jawa 1994 diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, ia mempunyai arti begitu juga manusia akan menjadi "pintar" (atau saya lebih senang mengartikannya sebagai bijaksana) karena bergaul/berhubungan dengan sesamanya.

Jadi, bergaul/berhubungan dengan sesama itu menjadikan manusia lebih pintar/bijaksana. Mengapa bisa begitu? Mari kita bahas. Hidup berdampingan dengan orang lain yang pastinya akan berbeda sudut pandang, karakter, pikiran, prinsip, dan lain-lain. Hampir tidak ada manusia yang "sama" dari semua sisi kehidupan, pasti ada satu titik dimana dua manusia yang mirip itu berbeda.

Dari perbedaan yang hadir itu lahirlah penyelarasan, yang biasanya dimulai dengan perbedaan pendapat, perselisihan, perdebatan karena adanya perbedaan. Jika hanya dilihat dari mata manusia biasa, perbedaan-perbedaan ini membuat sukar dua manusia untuk bersatu. Tetapi jika dilihat dengan mata Tuhan, yang mengatakan bahwa banyak anggota tapi satu tubuh. Maka kita bisa merasakan bahwa perbedaan-perbedaan inilah yang membuat seorang semakin "pintar"/bijaksana karena ini akan mempertajam hidup kita untuk semakin berkarakter seperti Kristus.

Bagi seorang yang terbiasa melakukan semuanya sendiri, enggan melibatkan orang lain karena "ribet", fase ini menjadi fase terberat dalam hidupnya. Menilik apa yang ditulis Paulus dalam kitab Korintus tentang banyak anggota satu tubuh, kita belajar bahwa anggota tubuh satu dengan yang lain tidak ada yang sama dan satu dengan yang lain saling membutuhkan. Sangat aneh jika semua anggota tubuh adalah kaki, atau semua mata.

Saya lebih suka menggambarkan keberagaman ini dengan harmonisasi musik yang indah. Ya, karena saya suka musik. Saya sangat suka gospel music, misal Israel and New Breed. Saya lihat waktu mereka memainkan lagu It's Not Over live performance, dengan pemain perkusi (alat musik pukul) ada lebih dari satu, belum gitar, bass, alat musik tiup, keyboard, piano, filler, juga vokalnya ada 10 orang mungkin. Dari awal sampai akhir lagu saya sangat menikmati dinamika musiknya. Dari slow (menyentuh) sampai transisi ke sentuhan musik yang sangat groovy sampai membuat badan ini tidak bisa berhenti bergoyang, membuat terheran-heran, bagaimana musik bisa sebagus ini. Kemudian yang saya lakukan saya mengamati permainan semua pemain yang ada. Tidak ada yang berusaha mendominasi sama sekali, semua saling mengisi satu sama lain supaya terbentuk sebuah harmonisasi yang indah. Dalam sebuah team/keluarga, saling percaya sangat diperlukan. Saat sang bassist sedang improve, tugas sang perkusionist tetap bermain menjaga beat supaya sang bassist "nyaman" memainkan permainan bassnya.

Harmonisasi musik yang indah tidak dibentuk dari dominasi satu komponen musik, tapi perpaduan semua komponen musik.

Jika ada permainan spontan, disinilah kepercayaan masing-masing pribadi dalam tim musik diuji. Ada satu kali waktu saya sedang ada dalam worship time sebuah ibadah, spontan saja sang pengkotbah memelototi sang pemain saxofon saat pemain berhenti memainkan saxofonnya, karena ternyata Tuhan ingin berbicara lewat tiupan saxofonnya. Ternyata Tuhan bisa berbicara lewat apapun termasuk tiupan saxofon. Jika sang pengkotbah tidak percaya pada pemain saxofon, saya tidak yakin pesan Tuhan yang mau dinyatakan lewat saxofon bisa disampaikan dengan baik. Begitu juga sang pemain saxofon harus percaya pada diri sendirinya bahwa dia membawa pesan Tuhan. Ketika kepercayaan satu sama lain terjadi, ada sebuah terobosan besar yang terjadi pada jemaat maupun pelayan Tuhan. Beberapa merasakan kasih Bapa, mendapat penglihatan, pesan Tuhan, nubuatan, dll.

Saling percaya ini menjadi tempat "mempertajam" yang baik