Rabu, 22 April 2026

Ketika Tuhan Sudah Memberi—Tapi Tidak Dihidupi



Ada satu kesalahan yang sering tidak disadari:

mengira bahwa setiap kekurangan dalam hidup
berarti Tuhan belum memberi.

Padahal dalam banyak kasus,
yang terjadi justru sebaliknya.

Bukan karena tidak tersedia—
melainkan karena tidak dikenali,
atau tidak dihidupi.


Masalah yang Tidak Terlihat

Seseorang bisa berada “di dalam”,
namun tidak pernah benar-benar tinggal.

Seperti sebuah keanggotaan yang memberi akses—
tetapi akses itu tidak otomatis menjadi pengalaman.

Di titik ini, iman tidak lagi soal status,
melainkan partisipasi.


Semua Berpusat pada Kristus

Alkitab dengan jelas berkata:

...di dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani...” — Efesus 1:3

Artinya, tidak ada yang benar-benar dimiliki
di luar relasi dengan Kristus.

Yang sering terlewat bukanlah pemberiannya,
melainkan keterhubungan dengan Sang Pemberi.


Kesalahan yang Halus

Banyak orang mencari damai—
sebagai konsep.

Mencari kekuatan—
sebagai hasil.

Padahal keduanya bukan sesuatu yang berdiri sendiri,
melainkan mengalir dari relasi.


Mengapa Tidak Terasa?

Jika semuanya sudah dikaruniakan,
mengapa hidup tetap terasa kosong?

Jawabannya tidak sesederhana “kurang iman”.

Karena anugerah tidak pernah meniadakan undangan untuk tinggal.

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu…” — Yohanes 15:4

“Tinggal” adalah bahasa relasi yang berkelanjutan,
bukan pengalaman sesaat.

Dan realitanya,
apa yang benar secara rohani
tidak selalu langsung terasa secara emosional.

Ada proses.
Ada pembentukan.


Hidup dari Apa yang Sudah Diberikan

Kekuatan tidak selalu hadir sebagai sensasi,
melainkan sebagai ketahanan.

Damai tidak selalu terasa sebagai ketenangan instan,
melainkan sebagai kestabilan yang tidak mudah runtuh.

Di sinilah iman bekerja—
bukan menciptakan sesuatu yang belum ada,
tetapi menghidupi apa yang sudah dinyatakan.


Penutup

Maka persoalannya bukan lagi:
apakah Tuhan sudah memberi atau belum.

Melainkan:
apakah hidup ini benar-benar tinggal
di dalam apa yang sudah diberikan.

Karena seringkali,
yang hilang bukanlah anugerah itu sendiri—

melainkan kesadaran
untuk hidup di dalamnya.

Jumat, 25 Juli 2025

Henotēs: Ketika Penyembahan Menjadi Rumah untuk Saling Menghidupkan

Ada satu hal yang akhir-akhir ini terus berbicara dalam hati saya: bahwa penyembahan bukan tempat untuk menunjukkan siapa yang paling kuat, paling peka, atau paling bersuara indah — tapi tempat di mana kita hadir sebagai satu tubuh. Tempat di mana saya bisa membawa bagian saya, dan juga menerima bagian dari saudara saya. Tempat di mana penyembahan bukan cuma saya “memberkati” jemaat, tapi saya juga dibangun dan dihidupkan oleh mereka.

Dalam Efesus 4:3, Paulus menulis:

“Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.”
Kata yang dipakai di sini adalah henotēs — bukan sekadar “kompak”, tapi kesatuan yang lahir dari satu tujuan, satu pengharapan, satu kasih yang saling melengkapi. Ini bukan keseragaman, tapi harmoni. Dan dari harmoni inilah, penyembahan yang hidup muncul.

Lalu di pasal berikutnya, Efesus 5:18–20, Paulus menulis tentang hasil dari hidup yang penuh Roh:

“Berbicaralah seorang kepada yang lain dalam mazmur, pujian dan nyanyian rohani...”

Saya suka bagian itu: “berbicaralah seorang kepada yang lain.”
Bukan hanya “nyanyikan lagu untuk Tuhan” — tetapi bernyanyilah untuk saling membangun.

Di situ saya sadar: dalam penyembahan, saya bukan hanya pelayan — saya juga anggota tubuh. Artinya, saya bukan hanya punya peran untuk memberkati, tapi juga perlu membuka diri untuk diberkati oleh suara saudara saya.


🎶 Penyembahan sebagai Ruang Harmoni, Bukan Unisono

Kalau semuanya nyanyi nada yang sama, itu namanya unisono. Indah, tapi datar.

Tapi kalau kita semua nyanyi dengan suara dan peran masing-masing — sopran, alto, tenor, bass — dan tetap bergerak dalam satu kunci yang sama, itu baru harmoni. Dan di situlah henotēs menjadi nyata.

Penyembahan yang lahir dari henotēs bukan tentang tampil seragam, tapi tentang menyatu dalam keragaman. Saya membawa suara saya, kamu membawa suaramu, dan Tuhan pakai semuanya untuk menciptakan sesuatu yang indah — bukan hanya untuk Dia, tapi juga untuk kita satu sama lain.


🤝 Saling Memberi, Saling Menerima

Saya pernah ada di satu sesi di mana saya sama sekali tidak punya kekuatan untuk menyembah. Bukan karena saya nggak mau, tapi karena memang sedang hancur. Tapi saya berdiri di tengah saudara-saudara yang menyembah dengan tulus, dan saya merasakan iman mereka, harapan mereka, kasih mereka — menopang saya yang sedang kosong.

Dan itu bukan pertama kalinya saya merasakannya.
Beberapa kali, dalam momen penyembahan yang biasa-biasa saja dari luar, saya pulang dengan hati yang pulih. Bukan karena khotbahnya kuat, atau lagunya viral, tapi karena saya berdiri di tengah keluarga yang menyatu dalam roh.

Penyembahan dalam henotēs bukan soal siapa yang kuat memimpin. Tapi soal kita semua saling menguatkan, saling menyambut kelemahan, dan percaya bahwa Tuhan hadir ketika kita datang sebagai satu tubuh.


🌿 Jadi, apa artinya buat kita?

  • Datanglah ke ruang penyembahan bukan hanya untuk “memberi pelayanan terbaik,” tapi juga membawa hatimu yang nyata, karena mungkin ada orang yang hari itu kamu kuatkan — dan mungkin juga kamu yang dikuatkan lewat mereka.

  • Buka telinga, bukan hanya ke musik, tapi ke suara saudara kita — karena Tuhan bisa bicara lewat mereka juga.

  • Dan yang terpenting: mari kita pelihara kesatuan Roh, henotēs, bukan karena kita semua sepakat di permukaan, tapi karena kita punya satu Tuhan, satu kasih, dan satu kerinduan: menyenangkan hati-Nya bersama-sama.


Saya terus belajar hal ini. Dan jujur, ini nggak mudah. Tapi setiap kali saya meletakkan ambisi pribadi, dan membuka hati untuk jadi satu dengan saudara-saudara saya — entah lewat penyembahan, lewat tangisan, atau bahkan keheningan — saya merasakan:
Inilah rumah. Inilah penyembahan. Inilah tubuh Kristus yang hidup.

Kamis, 19 November 2020

Syafaat Ayub

Ayub 42:10
Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.

Selama Ayub diuji, sahabat Ayub menuduhkan yang salah tentang Ayub. Namun Ayub tetap mendoakan dan keadaan Ayub dipulihkan. Tentang Ayub yang mendoakan sahabat-sahabatnya ini mengingatkan akan salah satu bentuk kemurahan hati seorang Ayub yang berbesar hati untuk mendoakan sahabat-sahabatnya.

Kemurahan ini salah satu dari buah Roh yang tertulis di Galatia 5:22-23. Kemurahan berasal dari kata Yunani χρηστοτης - KHRÊSTOTÊS. King James Version menerjemahkannya dengan "kindness; good; dan gentleness" (kebaikan, baik, dan kelemahlembutan)

KHRÊSTOTÊS ini memiliki kata dasar χρηστος –khrêstos yang berarti kata kata kerja yang bersifat berguna, menguntungkan. Ayat-ayat yang menggunakan krestos ini antara lain
Roma 2:4 LAI TB, Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud (kemurahan) Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?
Efesus 4:32 LAI TB, Tetapi hendaklah kamu (ramah) seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Kemurahan ini berarti
1. Sikap Allah terhadap manusia, penuh kasih sayang, Dia suka berbuat baik, memberikan yang baik pada manusia (Mazmur 23)
2. Charity (sosial) Matius 5:7. Tuhan pada manusia, manusia ke sesama
3. Suka memberi dan tidak pelit (generous = dermawan) 2 Korintus 9:13

Rabu, 18 November 2020

Dari Kata Orang

Ayub 42:5
Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

Ayub menjadi semakin kuat ketekunan imannya karena
Melihat menyaksikan sendiri suatu kejadian yang membuat iman percaya semakin bertambah.
Bahas tentang Tomas Yohanes 20:24
Sejarah mencatat Tomas adalah murid Yesus yang menyebarkan injil ke tempat yang paling jauh. Tomas yang mencucukkan jarinya atas bekas luka Yesus menjadi percaya bahwa Kristus telah bangkit dari kubur. Dan dia menghidupi amanat agung yang Yesus sampaikan sebelum naik ke surga.

Ada persamaan yang dialami oleh Ayub dan Tomas setelah dengan mata kepala mreka sendiri, mereka menyaksikan Tuhan. Yaitu pembalikan keadaan. Ayub keadaannya kembali. Juga Tomas yang menjadi semakin menyala-nyala dalam penyebaran injil.

Melihat dengan mata kepala sendiri menjadi vital karena perjumpaan pribadi ini membawa sebuah pembalikan keadaan pada pribadi. Perjumpaan pribadi ini jauh lebih kuat daripada mendengar kesaksian dari orang lain.

Kis 22:14-15
14 Lalu katanya: Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya.
15 Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar.

ketika sudah melihat dan mendengar pribadiNya kita wajib menjadi saksi

Berbahagia

Mazmur 1:1-3
1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Berbahagialah yang berasal dari kata Ibrani 'ASH'REY dalam kebanyakan terjemahan bahasa Inggris (termasuk KJV dan NIV) diterjemahkan dengan "Blessed" hal ini memang tidak salah, tetapi kalangan Yahudi lebih memilih kata "Bahagia/ Happy/ Joy" bahkan merupakan ungkapan/ ekspresi: kebahagiaan/ keriangan --> "bliss/ cheerfulness." Terjemahan Young's Literal Translation dan New Living Translation menerjemahkannya dengan happiness dan joy. 

Para penafsir Yahudi memandang ungkapan "ASH'REY" dari orang-orang benar ini merupakan suatu keadaan dan ekspresi seperti yang digambarkan dalam Mazmur 1:3: "Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air." Maka dari itu "pohon" menjadi simbol bagi suku Asyer (salah satu suku Israel).

Pada jaman itu, mampu melahirkan anak merupakan kehormatan yang tak tertandingi sebagai seorang istri. Ketika Rahel tidak segera dapat melahirkan anak bagi Yakub , ia menjadi cemburu kepada Lea telah melahirkan Ruben, Simeon, Lewi, dan Yehuda. Kemudian Rahel menyerahkan Bilha, budak perempuannya, untuk melahirkan baginya anak dari Yakub , yaitu: Dan dan Naftali. Karena Lea mengira bahwa ia tidak akan melahirkan lagi, Lea menyerahkan Zilpa untuk melahirkan anak baginya dari Yakub , yang pertama adalah Gad dan kemudian Asyer. Dengan kelahiran anak laki-laki Yakub dari Zilpa ini, Lea sangat berbahagia karena posisinya sebagai istri pertama semakin terotorisasi dan aman.

Kebahagiaan yang didapat karena tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk di kumpulan pencemooh, sebaliknya yaitu kesukaannya adalah Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam bahagianya sama dengan Lea yang melahirkan anak bagi Yakub supaya ia menjadi istri kesukaan.

Senin, 16 November 2020

Tertawa

Mazmur 2:4
Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka.

Tuhan yang kita kenal dengan keagungan dan kemegahanNya juga menunjukkan ekpresi tertawa ketika mengolok-olok musuhNya. Tertawa sendiri dipisahkan menjadi 4 bagian menurut maksudnya yang positif atau negatif.

1. Joy Master (membuat bahagia), tawa positif
2. Life Mocker (menghina, mengejek, mengolok-olok), tawa negatif
3. Joke Maker (lelucon), tawa bisa positif bisa negatif
4. Fun Meister (bersenang-senang), bisa positif bisa negatif

Kita bisa melihat dari kisah Abraham dan Sara yang keduanya didapati tertawa terhadap janji Tuhan bahwa mereka akan diberikan keturunan. Namun ternyata ada tawa yang dikenanNya dan tidak. Abraham dalam Kej 17:17 tertunduk kemudia tertawa sembari bertanya dalam hati akankah dia dalam umur nya yang sudah tua akan mendapati seorang anak. Dan dalam Kej 18:12 Sara tertawa juga dalam hati apakah dia akan berahi pada umurnya yang sudah tua?

Tawa kedua orang ini sangat berbeda karena Abraham tertawa karena sukacita, sedangkan Sara tertawa mengejek. Kepada Sara, Tuhan menegur karena ketidakpercayaannya akan melahirkan sebuah keturunan. Dan ketika anaknya yang bernama Ishak lahir, arti nama Ishak sendiri adalah tertawa.

Jika digolongkan menurut maksud tadi, tertawa Abraham masuk ke Joy Master. Sedangkan Sara Life Mocker. Tertawalah karena sukacita besar yaitu Tuhan sendiri yang telah turun ke dunia sebagai manusia yang tidak berdosa namun mati ganti kita untuk menebus dosa kita.

Lesu Karena Mengeluh

Mazmur 6:6-7
6 Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.
7 Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.

Pasal ini membicarakan tentang kengerian kematian (Ibrani מָוֶת - MAVET, death; death by violence (as a penalty) ; state of death, place of death) yang merujuk kepada "dunia orang mati" (Ibrani שְׁאוֹל - SYE'OL) apabila Daud tidak mendapatkan pengampunan. MAVET atau SYE'OL suatu tempat kengerian yaitu tempat kematian orang-orang jahat.

Daud memohon-mohon agar SYE'OL itu jangan menjadi miliknya, dan olehnya Daud berkata "janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu," (ayat 2). Dan dari ayat 2 ini Daud memberikan kalimat persuatif kepada Allah pada ayat 6 bahwa kalau ia dihukum dan berada di dalam dunia orang mati (SYE'OL) ia tidak akan dapat lagi memberikan pengucapan syukur dan peringatan akan kebaikan Allah yang sebelum-sebelunya pernah ia terima.

Yang Daud inginkan adalah pertobatan penuh supaya Tuhan menyelamatkan dia dari dunia orang mati yang ditimbulkan krn kesalahan dan dosanya. Yang terjadi ketika Daud pergi ke dunia orang mati adalah Daud tidak dapat lagi menyembah Allah.

Perikop ini mengingatkan tentang Lukas 16:19-31 yang berjudul Orang kaya dan Lazarus yang miskin. Yang keduanya mati, namun Lazarus pergi ke pangkuan Abraham sedangkan orang kaya masuk ke dunia orang mati. Karena orang kaya ini telah menikmati segala yang enak di dunia, sedangkan Lazarus tidak. Dunia menawarkan hal yang membuat daging kita disukakan. Padahal dalam Yakobus 4:4 dikatakan "persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah".

Jangan seperti orang kaya yang menyesal setelah dia masuk ke dunia orang mati yang penuh ratap tangis dan kertak gigi. Namun jadilah seperti Daud yang lesu karena mengeluh untuk mendapat pengampunan dan keselamatan dari Tuhan supaya tidak ke dunia orang mati.

Rabu, 11 November 2020

Keadaan Ilahi

Kis 17:28-30
28 Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.
29 Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia.
30 Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat.

Saulus bermaksud melukiskan kenyataan dengan suatu kata-kata yang sudah dikenal pendengarnya dalam syair-syair Yunani, bahwa semua orang berasal dari Allah dalam artian bahwa mereka adalah makhluk ciptaanNya dan hidup mereka ini bergantung kepadaNya. Allah adalah Bapa dari semua orang dan bahwa manusia adalah saling bersaudara berdasarkan fakta bahwa semua orang diciptakan oleh Allah.

Karena Allah adalah pencipta manusia, maka Ia pasti lebih besar daripada manusia. Oleh sebab itu, menyamakan Allah dengan ‘sesuatu yang dibuat’ atau ‘yang dibayangkan’ oleh manusia kemudian ‘diserupakan’ dalam bentuk patung atau benda berhala lainnya adalah kebodohan yang paling hebat.

Oleh karena itu, jika kita mencoba memperbaiki keadaan buruk yang kita alami dengan mereka-rekakan yang membuat suasana hati menjadi baik dengan kegiatan-kegiatan di luar Tuhan, semuanya akan menjadi sia-sia. Banyak yang menjadikan minuman keras, club, tiktok, hedonisme, dan banyak lagi menjadi pelampiasan untuk "memperbaiki mood" yang sedang tidak bagus.

Daripada mencari sesuatu yang bersifat sementara, yang kita perlukan hanya perlu bertobat menyesali setiap dosa pelanggaran kita supaya Tuhan mengampuni dan memberikan kita damai sejahtera. Yang perlu diingat bahwa kita adalah keturunan Allah dan keadaan ilahi kita tidaklah sama dengan yang dibuat oleh manusia. Biarkan Tuhan yang terus mempengaruhi kita dalam segala keadaan!

Selasa, 10 November 2020

Fathering is a Marathon

Ken R. Canfield, Ph.D., The National Center for Fathering

"I like to compare the job of a father to that of a long-distance runner. Fathering is a marathon—a long and often trying journey—and we must be disciplined if we hope to finish successfully."

Yitro memberi tahu Musa untuk memilih hakim supaya membantu Musa memberi keputusan atas setiap masalah-masalah yang dialami bangsa Israel. Seorang bapak sangat tau bagaimana dia harus berfungsi dengan baik membantu anaknya yang sedang kewalahan. Dan saat itupun orang-orang Israel belum tentu tau bahwa keputusan Musa mengangkat hakim itu karena saran dari Yitro.

Bapak berbicara tentang fungsi bukan posisi. Fungsi seorang bapak adalah membimbing anaknya sehingga ia sampai ke tujuan. Posisi Yitro saat itu bukanlah seorang raja yang sepantaran dengan Musa. Tapi kebijaksanaannya dan hikmatnya yang membuat dia lebih tinggi dari Musa sehingga dia bisa memberikan saran yang demikian. Secara tidak langsung posisinya yang tidak terlihat ini sebenarnya lebih tinggi dari posisi Musa.

Menjadi Bapak tidak perlu harus kelihatan, tapi dampaknya harus bisa dirasakan. Seorang anak yang juara dalam berlomba. Tidak akan ada yang bertanya nama bapaknya siapa, tapi orang yang menyaksikan lomba tau bahwa bapanya mendidik dia dengan baik hingga anak ini menjadi juara. Dampak nya terlihat ketika anak ini menjadi juara di bidangnya. Itulah seorang bapak.

Dan menjadi bapak bukanlah perkara yang mudah karena menjadi bapak adalah tentang berproses sementara anak sedang didewasakan. Anak gagal, anak jatuh, anak tidak berhasil adalah bagian dari proses pembapakan, proses selesai ketika sang anak sudah sampai tujuan. Oleh karena itu saya setuju dengan apa yang dikatakan Ken tentang pembapakan adalah seperti maraton, sebuah perjalanan panjang dan kita harus mendisiplinkan diri jika kita ingin mengakhirinya dengan baik.

Billy Graham mengatakan "A good father is one of the most unsung, unpraised, unnoticed, and yet one of the most valuable assets in our society." Bapak yang baik adalah bapak yang tanpa tanda jasa, tidak dipuji, tidak terlalu mencolok, tetapi ia adalah aset yang sangat berharga di sekitar kita.

Trust

Pesan ini saya dapatkan waktu tengah berdoa di ibadah umum sore offline kala itu. Dengan keadaan fisik yang lemah karena kecapekan, tapi tetap memaksa diri untuk tetap beribadah, justru dalam keadaan seperti itu Tuhan berbicara kuat.

Salah satu hal baik tinggal dalam sebuah keluarga adalah kita mendapatkan orang-orang yang akan membantu meringankan beban, menyembuhkan luka, dan akan selalu menggandeng tangan kita supaya kita tidak tertinggal dalam sebuah perjalanan. Betapa menyenangkannya tinggal dalam sebuah keluarga!

Amsal 27:17 (TB) TB: Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya
Amsal 27:17 (Jawa 1994) Jawa 1994: Wesi landhepé menawa diasah nganggo wesi; semono uga manungsa dadi pinter merga sesrawungan karo pepadhané.

Menarik nya dalam terjemahan bahasa jawa, ada kata-kata yang dipertajam. Dalam Terjemahan Baru disebutkan orang menajamkan sesamanya. Dalam Bahasa Jawa 1994 disebutkan semono uga manungsa dadi pinter merga sesrawungan karo pepadhane. Jika terjemahan Bahasa Jawa 1994 diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, ia mempunyai arti begitu juga manusia akan menjadi "pintar" (atau saya lebih senang mengartikannya sebagai bijaksana) karena bergaul/berhubungan dengan sesamanya.

Jadi, bergaul/berhubungan dengan sesama itu menjadikan manusia lebih pintar/bijaksana. Mengapa bisa begitu? Mari kita bahas. Hidup berdampingan dengan orang lain yang pastinya akan berbeda sudut pandang, karakter, pikiran, prinsip, dan lain-lain. Hampir tidak ada manusia yang "sama" dari semua sisi kehidupan, pasti ada satu titik dimana dua manusia yang mirip itu berbeda.

Dari perbedaan yang hadir itu lahirlah penyelarasan, yang biasanya dimulai dengan perbedaan pendapat, perselisihan, perdebatan karena adanya perbedaan. Jika hanya dilihat dari mata manusia biasa, perbedaan-perbedaan ini membuat sukar dua manusia untuk bersatu. Tetapi jika dilihat dengan mata Tuhan, yang mengatakan bahwa banyak anggota tapi satu tubuh. Maka kita bisa merasakan bahwa perbedaan-perbedaan inilah yang membuat seorang semakin "pintar"/bijaksana karena ini akan mempertajam hidup kita untuk semakin berkarakter seperti Kristus.

Bagi seorang yang terbiasa melakukan semuanya sendiri, enggan melibatkan orang lain karena "ribet", fase ini menjadi fase terberat dalam hidupnya. Menilik apa yang ditulis Paulus dalam kitab Korintus tentang banyak anggota satu tubuh, kita belajar bahwa anggota tubuh satu dengan yang lain tidak ada yang sama dan satu dengan yang lain saling membutuhkan. Sangat aneh jika semua anggota tubuh adalah kaki, atau semua mata.

Saya lebih suka menggambarkan keberagaman ini dengan harmonisasi musik yang indah. Ya, karena saya suka musik. Saya sangat suka gospel music, misal Israel and New Breed. Saya lihat waktu mereka memainkan lagu It's Not Over live performance, dengan pemain perkusi (alat musik pukul) ada lebih dari satu, belum gitar, bass, alat musik tiup, keyboard, piano, filler, juga vokalnya ada 10 orang mungkin. Dari awal sampai akhir lagu saya sangat menikmati dinamika musiknya. Dari slow (menyentuh) sampai transisi ke sentuhan musik yang sangat groovy sampai membuat badan ini tidak bisa berhenti bergoyang, membuat terheran-heran, bagaimana musik bisa sebagus ini. Kemudian yang saya lakukan saya mengamati permainan semua pemain yang ada. Tidak ada yang berusaha mendominasi sama sekali, semua saling mengisi satu sama lain supaya terbentuk sebuah harmonisasi yang indah. Dalam sebuah team/keluarga, saling percaya sangat diperlukan. Saat sang bassist sedang improve, tugas sang perkusionist tetap bermain menjaga beat supaya sang bassist "nyaman" memainkan permainan bassnya.

Harmonisasi musik yang indah tidak dibentuk dari dominasi satu komponen musik, tapi perpaduan semua komponen musik.

Jika ada permainan spontan, disinilah kepercayaan masing-masing pribadi dalam tim musik diuji. Ada satu kali waktu saya sedang ada dalam worship time sebuah ibadah, spontan saja sang pengkotbah memelototi sang pemain saxofon saat pemain berhenti memainkan saxofonnya, karena ternyata Tuhan ingin berbicara lewat tiupan saxofonnya. Ternyata Tuhan bisa berbicara lewat apapun termasuk tiupan saxofon. Jika sang pengkotbah tidak percaya pada pemain saxofon, saya tidak yakin pesan Tuhan yang mau dinyatakan lewat saxofon bisa disampaikan dengan baik. Begitu juga sang pemain saxofon harus percaya pada diri sendirinya bahwa dia membawa pesan Tuhan. Ketika kepercayaan satu sama lain terjadi, ada sebuah terobosan besar yang terjadi pada jemaat maupun pelayan Tuhan. Beberapa merasakan kasih Bapa, mendapat penglihatan, pesan Tuhan, nubuatan, dll.

Saling percaya ini menjadi tempat "mempertajam" yang baik

Sukacita Melebihi Kelimpahan

Maz 4:7-8
7 Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur.
8 Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.

Situasi sekeliling mazmur ini sama dengan situasi dari Mazmur 3. Sekalipun demikian, di dalam mazmur ini ratapan menjadi nyanyian keyakinan untuk mengungkapkan kelegaan pemazmur. Nada tenang tentram di sepanjang mazmur ini merupakan hasil dari pengalaman akan pertolongan Allah pada masa lalu. Sebagaimana Allah memberikan ketenangan di dalam pengalaman sebelumnya (Mzm. 3), terdapat keyakinan bahwa Dia kembali akan memberikan ketenangan yang sama. Ayat 8 mengaitkan mazmur ini dengan doa di malam hari.

Daud menghadapi banyak peperangan semasa pemerintahannya. Peperangan pertamanya adalah melawan Goliat yang ukurannya berlipat-lipat kali besarnya. Pergumulan Daud selama peperangan tidak bisa dipungkiri masih adanya ketakutan meskipun Daud mengetahui bahwa ada Allah yang besar di pihaknya. Namun kedagingan dan sifat kemanusiaannya yang ini masih harus terus dikalahkan supaya yang tinggal hanyalah kepercayaan akan Tuhan dan tinggal tenang dalam hadiratNya, tidak perlu lagi merasa kuatir.

Ketenangan inilah yang sulit didapatkan ketika hidup jauh dari Tuhan. Karena peperangan terus kita alami setiap hari, peperangan melawan kedagingan, ketakutan. Untuk memenangkan ketenangan dan kepercayaan akan Tuhan membutuhkan effort/usaha yang luar biasa. Kadang keegoan manusia, merasa pintar dan bisa mengerjakan semua dengan kekuatan sendiri, justru malah membuat kepercayaan akan Tuhan menjadi semakin menjauh. Tuhan dan diri pribadi menjadi persaingan luar biasa.

Ketenangan ini hanya bisa kita dapatkan ketika kita meletakkan semuanya di hadapan Tuhan dan biarkan Dia bekerja memenangkan setiap peperangan-peperangan di hidup kita.  Mazmur 72:21-23 "Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku"

Dari ketenangan inilah timbul sukacita yang mengalir melebihi kelimpahan gandum dan anggur. Melebihi kelimpahan karena haus dan lapar yang terpuaskan. Apakah sumber sukacitamu?

Sang Terpilih

Maz 4:3-4
3 Ketahuilah, bahwa TUHAN telah memilih bagi-Nya seorang yang dikasihi-Nya; TUHAN mendengarkan, apabila aku berseru kepada-Nya.
4 Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam. Sela

Berbahagialah orang yang telah dipilihNya, dan yang dipilihNya adalah yang dikasihiNya. Sungguh sesuatu kehormatan yang luar biasa. Dia adalah Allah yang berkuasa di kekuasaan yang paling tinggi namun Dia juga Allah yang begitu dekat yang memperhatikan umat yang dikasihiNya. Melihat bagaimana Ia memilih yang dikasihiNya, menandakan Dia sangat mengerti dan mengamati anak-anakNya satu demi satu.

Dalam terjemahan KJV ayat ini berbunyi demikian "But know that the LORD hath set apart him that is godly for himself: the LORD will hear when I call unto him.". Jika dilihat dari terjemahan ini, kata yang digunakan bukan choose tapi set apart. Ketika Tuhan memilih, Dia memisahkan kita dari antara yang lain. Kriteria Tuhan memilih ini yang harus kita perhatikan untuk memastikan kita adalah bagian dari umat yang dikasihiNya dan dipilihNya.

Set apart berasal dari kata פָּלָה (baca: pâlâh) yang berarti menaruh perbedaan, menunjukkan yang luar biasa, terpisah, pisahkan, potong, buat dengan luar biasa. Disini Tuhan membuat perbedaan. Dalam Yesaya 59:2 dikatakan "tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."

Ini sangat berkaitan dengan ayat 4 yang mengatakan bahwa jika kita sedang marah, janganlah sampai kita berbuat dosa, dan tetaplah diam. Tuhan menetapkan kriteria ketika Dia memisahkan mana yang dipilihNya. Dan yang menjadi pemisah adalah dosa kita. Karena gelap dan terang tidak bisa bersatu. Dalam Wahyu 3:16 dikatakan "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Jadi, karena kamu hangat, tidak panas ataupun dingin, Aku akan memuntahkanmu dari mulut-Ku."

 Jika kita meninggalkan segala dosa kesalahan kita, dan kita meminta ampun padaNya. Kita masuk dalam kriteria Tuhan dan Dia akan membuat kita luar biasa menurut kehendakNya. Apakah kita sudah menjadi bagian yang dipisahkan Tuhan daripada gelap, dan Dia membuat kita luar biasa ke depannya?

Dari Satu Orang

Kis 17:26
"Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka"

Allah adalah Sang Khalik, semua berasal dari sumber yang sama, dan semua orang bergantung kepadaNya. Dia telah memberikan bumi kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia itu. Suatu pemikiran yang sama ketika Paulus berkhotbah di hadapan orang Yunani di Listra (reff. Kisah 14:17). Allah yang satu-satunya dan mutlak itu telah menciptakan satu kemanusiaan di bumi, kepadaNyalah seharusnya mereka beribadah.

Ketika Paulus memasuki Atena, dia menjadi begitu sedih karena melihat ada banyak patung-patung berhala. Karena Paulus sudah dikenal sebagai pembawa injil. Hal itu yang membawa Paulus diperhadapkan dalam sidang yang membahas tentang injil itu sendiri dan orang-orang di Atena bermaksud untuk mendengar sesuatu yang baru.

Disinilah Paulus mulai menceritakan kebesaran Tuhan. Tuhan adalah Maha Kuasa. Kekuasaanya mampu membuat satu orang menjadi satu bangsa yang besar. Contohnya Abraham, dari janji Tuhan pada Abram bahwa keturunannya akan seperti pasir di tepi laut dan bintang di langit, namun pada kenyataan saat janji itu diberikan. Abram memiliki istri yang mandul, Sara. Bahkan ketika Sara mendengar bahwa dia akan melahirkan seorang anak, Sara tertawa karena keraguannya akan mempunyai anak di umurnya yang sudah lanjut (Kej 18:12).

Namun yang terjadi adalah Kedaulatan Tuhan tidak ada yang bisa melawannya. Dengan kuasaNya, Dia membuat sara hamil dan melahirkan Ishak. Dari Ishak lahir Yakub. Dari Yakub lahir Yusuf, hingga lahir Yesus dan sampai lahir kita hari ini yang memenuhi bumi yang kita tinggali hari ini. Bukankah kita bisa melihat kebesaran Tuhan yang tidak terbantahkan? Bukankah seharusnya semakin kita melihat fakta-fakta kebesaran Tuhan, kita semakin menghormati dan mengasihiNya?

Dari satu orang, satu bangsa dijadikan, bahkan satu bumi dipenuhi. Dialah Allah yang berdaulat penuh. Ketika Dia telah berkehendak, Dia yang akan menentukan waktu yang tepat, kapan akan melaksanakan kehendakNya! Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah terus menyembah dan mengasihi Dia, mencintai perbuatanNya, dan jangan mengijinkan berhala-berhala mengambil alih perhatian kita. Sebab hanya Dia yang layak menerima seluruh perhatian kita.

Tidak Gentar Dalam Arus Yang Kuat

Ayub 40:15-24

Kuda nil atau yang disebut dalam bahasa Ibrani Behemoth merupakan hewan yang digunakan Tuhan untuk menggambarkan kekuasaan Tuhan di tengah-tengah alam semesta. Kuda nil merupakan makhluk pertama yang dibuat Allah dan diberiNya bersenjatakan pedang. Hewan yang suka berendam ini ternyata menyimpan banyak rahasia, yang selama ini kita tahu bahwa hewan ini hewan pemalas, ternyata hewan ini memiliki senjata yang tidak terduga. Apa sajakah itu?

Disebutkan dalam ayat 16-18 ada 2 garis besar kekuatan yang dimiliki kuda nil. 
1. Kita harus memperhatikan tenaga dipinggangnya, dan kekuatan pada urat-urat perutnya, juga tulangnya yang seperti batang besi. Kerasnya kulit pelindung terutama yang terdapat pada perut membuat hewan ini tahan terhadap benturan dan gesekan seraya kuda nil menyeret bagian bawah badannya melintasi kayu dan batu di dasar sungai. Kulit pelindungnya menjadi senjata terhadap benturan yang dia hadapi. Pastikan kita sudah memiliki pelindung yang kuat supaya bisa tahan terhadap benturan. Mazmur 3:3 Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. 

2. Disebutkan bahwa tulangnya seperti batang besi. Ini menandakan bahwa tulang yang dimiliki hewan ini mampu menahan berat badannya yang bisa sampai lebih dari 3 ton. Amsal 24:10 "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu." Masa kesesakan inilah yang menguji hati kita apakah kita tetap menyembah dan mencintai perbuatanNya ataukah kita menjadi tawar dan meninggalkan Tuhan? Hati kita adalah penentu perjalanan hidup kita sampai Tuhan panggil kita untuk pulang ke Sorga.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat kolose menghendaki supaya mereka semakin berakar dan dibangun di dalam Dia yang memberikan iman, pengharapan, dan kasih. Kol 2:7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

Hal inilah yang membawa kita menjadi pribadi yang tidak mudah gentar akan apapun. Seperti kuda nil yang tertulis pada Ayub 40:18 mengatakan bahwa biarpun sungai sangat kuat arusnya, ia tidak akan gentar dan akan tetap tenang. Memastikan bahwa pelindung kita kuat dan hati kita teruji mampu menahan kerasnya kehidupan akan membawa kita pada tidak gentar meskipun arusnya sangat kuat.

Senin, 18 Februari 2019

Orang Ahli Pilihan Tuhan

Dalam perikop Keluaran 35 :30-35 dibahas tentang pengangkatan Bezaleel dan Aholiab. Jika kita menilik pasal dan ayat sebelumnya, dibahaslah tentang Kemah Suci, Tabut, Minyak Urapan, Pembakaran Ukupan, dll. Sebenarnya pemilihan Bezaleel dan Aholiab pertama disinggung di Keluaran 31, tapi dibahas lagi di Keluaran 35. Bezaleel dan Aholiab ini dipilih langsung oleh Tuhan untuk membangun Kemah Suci dan semuanya. Siapakah mereka?

Hasil gambar untuk pembangunan kemah suci

Bezaleel adalah cucu dari Hur (Hur disebut dalam Peperangan Bangsa Israel melawan Amalek, Musa mengangkat tangannya dan Harun juga Hur menopang tangannya ketika Musa kelelahan, sehingga Bangsa Israel dapat memukul kalah Amalek).
Sedangkan Aholiab tidak begitu disebutkan asal usulnya, Aholiab ini ditentukan untuk bekerja di bawah Bezaleel, membantu dalam pembangunan Kemah Suci, Tabut Perjanjian, dll. 

Beberapa saat ini, ada perenungan apakah panggilan itu, banyak yang salah mengartikan passion sebagai panggilan, padahal menurut saya passion itu tentang talenta yang Tuhan beri sejak kita direncanakan Tuhan untuk lahir ke dunia, tapi panggilan itu Tuhan sendiri yang tentukan dan belum tentu sesuai passion kita. Panggilan Tuhan adalah "Ikutlah Aku", maka sebenarnya panggilan itu adalah Tuhan ada dimana, Tuhan ingin kita melakukan apa, Tuhan baru memikirkan apa saat ini, Tuhan sukanya apa ya. Dimanapun Tuhan ada kita harus ada disana, karena "Ikutlah Aku" itu. Seperti yang dialami Nuh, Nuh mengikuti Tuhan dengan "secara mendadak" jadi orang yang membangun bahtera karena Tuhan akan memusnahkan bumi kecuali keluarga Nuh. Setelah air bah surut dan tumbuhan mulai tumbuh, Nuh jadi Petani (Kejadian 9:20) dikatakan dia adalah orang mula yang membuat kebun anggur. Ada perubahan dalam hidup Nuh dari pembuat bahtera ke petani (yang menurut saya 2 pekerjaan yang berbeda). Tapi intinya mengikut Tuhan.

Kembali ke pokok bahasan tentang Bezaleel dan Aholiab yang dipilih Tuhan untuk membangun Kemah Suci dll. Bezaleel adalah arsitek, dikatakan bahwa Bezaleel dapat menggambarkan DENGAN TEPAT apa yang dikatakan Tuhan kepada Musa tentang arsitek karena apa? Karena Tuhan sendiri yang memenuhi Bezaleel dengan Roh Allah! Maka Allah mengaruniakan keahlian, pengertian, pengetahuan, dll.


35:30 Berkatalah Musa kepada orang Israel: "Lihatlah, TUHAN telah menunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, 
35:31 dan telah memenuhinya dengan Roh Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan, 
35:32 yakni untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga; 
35:33 untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan yang dirancang itu. 

Posisi Aholiab untuk pembangunan Kemah Suci, melengkapi Bezaleel. Maka Tuhan juga mengaruniakan semua hal yang baik kepada Aholiab juga.

35:34 Dan TUHAN menanam dalam hatinya, dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar. 
35:35 Ia telah memenuhi mereka dengan keahlian, untuk membuat segala macam pekerjaan seorang tukang, pekerjaan seorang ahli, pekerjaan seorang yang membuat tenunan yang berwarna-warna dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus, dan pekerjaan seorang tukang tenun, yakni sebagai pelaksana segala macam pekerjaan dan perancang segala sesuatu.


Ada perbedaan antara panggilan dan pilihan Tuhan dengan hanya sekedar melakukan pekerjaan. Jika memang sudah panggilan dan pilihan Tuhan inilah tanda nya

1. Dipenuhi Roh Allah
Ternyata untuk dipenuhi Roh Allah bukan hanya lewat doa saja, tapi ketika kita di posisi yang tepat dimana Tuhan mau, kita akan dipenuhi Roh Allah. Ketika seseorang ada di posisi yang tepat dengan panggilan Tuhan, ada Roh Allah yang akan memenuhi dia. Apa yang dikerjakan itu hanya objek, tapi yang paling penting adalah yang mengerjakan. Roh Allah itulah yang mengaruniakan keahlian, pengertian, dan pengetahuan DALAM SEGALA PEKERJAAN bukan hanya 1 pekerjaan. WOW! Jadi menurut saya, kurang benar kalau seseorang terpanggil menurut keahliannya, karena ketika kita mengikut Tuhan di posisi yang tepat, Tuhan sendiri yang akan memberikan keahlian. Akan sangat asyik dan menantang, jika Tuhan memanggil kita ke tempat yang bukan keahlian kita (hahaha)

2. Ketepatan yang luar biasa
Dalam Keluaran 36:6 dikatakan persembahan untuk pembangunan Kemah Suci sudah berlebih. Tapi yang terjadi Musa dengan beraninya mencegah rakyat untuk membawa persembahan karena apa yang mereka butuhkan sudah cukup bahkan berlebih. Saya berdoa Tuhan akan mengubah bangsa ini, terutama orang-orang di bangsa ini bisa seperti Musa. Apa yang dilakukan Musa ini sangat tepat dan sangat patut untuk diteladani. Sebenarnya Musa bisa tidak menghentikan persembahan karena masih ada yang ingin persembahan. Tapi karena Roh Allah memenuhi tadi, Musa melakukan tepat apa yang Tuhan mau. Me plus Jesus is enough even more than enough!

3. Kemuliaan Tuhan turun
Sangat erat hubungan antara panggilan Tuhan dan Kemuliaan Tuhan turun. Dikatakan dalam Keluaran 40:34-38 :
40:34 Lalu awan itu menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci
Apa yang dikerjakan Bezaleel dan Aholiab itu membuat Tuhan memenuhi Kemah Suci dengan KemuliaanNya. WOW! Saya bisa bayangkan jika saya ada di posisi Bezaleel dan Aholiab saat itu saya tidak akan menyangka jika Tuhan akan berbuat seperti itu dahsyatnya, hanya bisa tersungkur karena perbuatan dahsyat Tuhan. Dan akan ketagihan dengan apa yang Tuhan mau selanjutnya. Meskipun harus mengalami banyak tantangan karena kadang pilihan dan panggilan Tuhan itu tidak sesuai dengan keahlian kita.


Urutannya
Pilihan dan Panggilan Tuhan → Kita dipenuhi Roh Allah dengan Keahlian sesuai pilihan Tuhan → Jika semuanya dilakukan dengan tepat sesuai apa yang Dia mau → Kemuliaan Tuhan turun atas apa yang kita kerjakan (Jangan sampai terbalik)
Apapun yang kita kerjakan ujung-ujungnya Tuhan dimuliakan. Haleluya.

Saya berdoa supaya setiap kita dapat mengikuti dengan tepat apa yang Tuhan mau, bukan memilih sebuah pilihan karena berdasarkan apa yang kita bisa, tapi benar-benar karena pilihan Tuhan. Jadilah orang ahli karena pilihan dan panggilan Tuhan. Selamat berjuang. Tuhan memberkati!

Rosi Dwi Jayani

Jumat, 08 Februari 2019

Devoted Days

Dalam kita menjalani hari demi hari, ada hari-hari yang harus dikhususkan untuk sesuatu. Untuk mengerti bagaimana kita hidup bukan untuk kita sendiri, tapi untuk Kristus yang ada di dalam kita, kita harus lebih dalam masuk dalam pikiran dan perasaan Tuhan, dengan memperbanyak jam doa dan memahami perkataanNya yang tertulis dalam kitab. Jangan pernah lupa bahwa kita adalah manusia rohani yang tinggal dalam jasmani. Kebutuhan jasmani harus menyesuaikan rohani bukan kebutuhan rohani menyesuaikan jasmani. Karena seringnya melakukan hal yang jasmani kita kadang bahkan sering melupakan yang rohani.

Seperti tertulis dalam Keluaran 23:10-11
23:10 Enam tahunlah lamanya engkau menabur di tanahmu dan mengumpulkan hasilnya, 23:11 tetapi pada tahun ketujuh haruslah engkau membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja, supaya orang miskin di antara bangsamu dapat makan, dan apa yang ditinggalkan mereka haruslah dibiarkan dimakan binatang hutan. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu.

Perikop ini diberi judul HAK-HAK MANUSIA. Hak berarti yang kita terima.
Yang harus kita terima bahwa Tuhan memberi kita waktu enam tahun untuk menabur dan mengumpulkan hasil, dan pada tahun yang ketujuh kita wajib meninggalkan ladang yang telah digarap, supaya ladang kita bisa dinikmati orang yang membutuhkan, bahkan bisa memberi makan binatang-binatang yang membutuhkan.

Hasil gambar untuk filed

Bagaimana kalau tidak menghiraukan "tahun ketujuh" dimana itu adalah waktu yang dikhususkan?

1. Wajar kalau melihat adanya kegagalan
Waktu untuk memberi ladang/tanah kita istirahat itu adalah waktu dimana apa yang sudah dikerjakan itu digunakan untuk memberkati bangsa (orang yang membutuhkan, memberi makan sekitar termasuk hewan meskipun liar ataupun ternak). Kalau kita terus mengusahakan ladang tanpa memberi waktu istirahat, ladang kita tidak bisa memberkati orang. Disitulah saya melihat kegagalan dari apa yang sudah diusahakan. Karena kita manusia rohani kita wajib hidup berdasarkan apa yang Ia mau, Ia mau supaya apa yang kita usahakan bisa memberkati orang. Jika tidak bisa memberkati, kita gagal menyenangkan hatiNya.

2. Kehilangan kendali
Kalau seseorang berpikir bahwa ladangnya baru berkembang dan takut untuk meninggalkan ladangnya karena takut di masa yang datang tidak akan berkembang seperti saat itu, maka orang tersebut sudah kehilangan sesuatu yang sangat besar yaitu bahwa semua hasil usahanya itu datangnya dari Tuhan. Seperti tertulis di Alkitab, Paulus menanam, Apolos menyiram, tapi Tuhanlah yang memberi pertumbuhan. Jangan pernah lupa Tuhan yang mengatur semuanya. Hal yang paling esensi adalah mengerti hatiNya dan kehendakNya

Dari 7 tahun, Tuhan hanya minta 1 tahun. Dari 7 hari, Tuhan hanya minta 1 hari untuk kita beristirahat maupun mengistirahatkan apa yang kita kerjakan, karena di saat istirahat itu Tuhan sendiri yang mengusahakan hidup dan apa yang kita kerjakan supaya itu bisa memberkati bangsa. Jika hal ini kita lakukan dengan setia, maka hidup dan apa yang kita kerjakan bisa memberkati umat Tuhan seluruh dunia.

Tuhan memberkati
Rosi Dwi Jayani

Sabtu, 07 Mei 2016

An Early Decision


Kebimbangan generasi dalam sebuah perjalanan iman yang seringkali bingung mana nilai yang harus dipanut, langkah mana yang terlebih dulu harus diambil, membuat banyak waktu terbuang sia-sia. Seperti bangsa israel yang berputar-putar di padang gurun selama bertahun-tahun, itu membuat generasi di bawah kita mati. Make an early decision is most important thing. Membuat keputusan awal adalah hal yang terpenting supaya tidak ada generasi yang mati akibat kebimbangan kita di tengah jalan. 

Belajar dari kisah Abram dan Lot berpisah yang ditulis di Kejadian 13:1-18.
13:1 Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. 
13:2 Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. 
13:3 Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, 
13:4 ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN. 
13:5 Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah. 
13:6 Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.

Disini titik permasalahan awal, karena Abram dan Lot masing-masing mempunyai kekayaan yang tidak bisa ditampung dalam sebuah negeri tempat mereka tinggal maka mereka memutuskan untuk berpisah supaya tidak ada perkelahian antara Abram dan Lot maupun para gembalanya.

Di ayat 9 dikatakan "Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.". Dari statement ini lahirlah 2 keputusan yang berbeda yang membuat hasil akhir yang beda pula

1. Keputusan Lot (Lot's decision)
"Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. -" (Kejadian 13:10)
Lot melayangkan pandangnya dan ia melihat bahwa semua baik, bahkan sampai Lot berkata "seperti taman Tuhan".

2. Keputusan Abram (Abram's decision)
"Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya." (Kejadian 13:14-15)

Ada 2 persamaan dari yang dilakukan Lot dan Abram yaitu mereka sama melayangkan pandang mereka untuk melihat negeri dimana tempat mereka akan tinggal. Namun ada 2 perbedaan yang sangat signifikan yaitu letak Tuhan dilibatkan di dalam keputusan mereka.
Banyak orang melihat sesuatu baik, seperti Martha yang melayani Tuhan, melayani Tuhan itu baik tapi apakah itu yang Tuhan mau? Lot juga mengalami apa yang dipandangnya baik bahkan dikatakan seperti taman Tuhan, tapi ternyata itu Sodom dan Gomora yang akhirnya dimusnahkan Tuhan. Jangan tertipu dengan yang terlihat baik. Tetapi jadilah seperti Abram yang melangkah ketika Tuhan berfirman. Kebimbangan untuk mengambil keputusan membuat banyak waktu yang terbuang dan yang paling buruk berakibat pada kematian rohani generasi yang dimuridkan. Kemaksimalan hidup dimulai dari keputusan awal yang melibatkan Tuhan

Berhenti melakukan sesuatu yang kamu anggap baik. Lebih baik mundur 1 langkah demi maju 10 langkah. Memulai semuanya dengan Tuhan di depan

Rabu, 03 Februari 2016

Tuhan "Sengaja"



Keluaran 13:17-18

1. Memaksakan standar Tuhan di hidup kita 
Tuhan sengaja membawa orang Israel melewati padang gurun padahal ada jalan yang lebih dekat, namun jalan terdekat mereka harus melewati bangsa musuh yaitu bangsa Filistin dan Tuhan sudah tau bahwa bangsa Israel akan kembali ke Mesir jika melewati bangsa musuh maka dari itu Tuhan membawa bangsa Israel melewati padang gurun
Dengan Tuhan memaksakan standar hidupnya pada bangsa Israel, Israel masuk ke padang gurun selama 40 tahun (namun tanpa melewati padang gurun, Israel tidak akan mengalami roti manna, mara dan elim sungai dengan air pahit dirubah menjadi air yang manis)
Perjalanan padang gurun berakibat matinya satu generasi pertama bangsa israel

2. Keberanian ilahi
Keluaran 6:27 – 7:7 (tentang Musa menghadap Firaun)
Musa diutus Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel dengan menghadap Firaun, namun Tuhan berfirman/berkata Tuhan akan mengeraskan hati Firaun, hati mana yang tidak takut apabila Tuhan berkata seperti itu. Namun keberanian Musa untuk melangkah itulah yang membuat bangsa Israel bebas.
Temukan Firaunmu dan hadapi, beranilah melangkah!!!

Rabu, 15 Juli 2015

Worthy of it All

All the saints and angels bow before Your throne
All the elders cast their crowns before the Lamb of God and sing

You are worthy of it all,
You are worthy of it all
You deserve the glory
For from You are all things,
And to You are all things,

Day and night, night and day, let incense arise
Day and night, night and day, let incense arise
Day and night, night and day, let incense arise
Day and night, night and day, let incense arise




Divine Courage

Ada sebuah laut dengan air yang keruh, kita tidak pernah tau apakah ada sesuatu yang berharga di dasar laut tersebut tanpa kita masuk dan berada di dasar laut tersebut.

Orang yang hanya melihat laut tersebut dari darat hanya bisa melihat air yang keruh tanpa melihat keindahan dasar laut tersebut. Laut yang keruh tersebut berbicara tentang kehidupan yang ada di dunia, kita adalah penyelam-penyelamnya Tuhan yang ditaruh Tuhan di dunia ini. Kita semua tau bahwa dunia hari-hari ini sudah semakin rusak, seperti sebut saja Amerika yang mengesahkan pernikahan sesama jenis di 50 bagian negara, seorang pembuat kue pernikahan harus membayar denda ketika dia menolak membuatkan kue pernikahan untuk lesbian (pembuat kue ini orang kristen yang taat), komunitas incest (hubungan cinta diantara saudara sekandung) di Jerman juga minta disahkan, dan masih banyak lagi. Hanya orang-orang yang melihat dari daratan akan bilang bahwa ini adalah akhir dari dunia, dunia tidak bisa lagi diselamatkan, tapi orang-orang yang menyelam sampai ke dasar laut yang keruh tersebut akan menemukan sesuatu yang "berbeda", bisa saja mereka menemukan mutiara yang kecil, tapi 1 butir mutiara itu berharga, paling tidak mereka menemukan harapan meskipun kecil di kedalaman laut tersebut.

Dibutuhkan keberanian untuk melangkah untuk menemukan harapan di tengah ketakutan.