Sabtu, 07 Mei 2016

An early decision


Kebimbangan generasi dalam sebuah perjalanan iman yang seringkali bingung mana nilai yang harus dipanut, langkah mana yang terlebih dulu harus diambil, membuat banyak waktu terbuang sia-sia. Seperti bangsa israel yang berputar-putar di padang gurun selama bertahun-tahun, itu membuat generasi di bawah kita mati. Make an early decision is most important thing. Membuat keputusan awal adalah hal yang terpenting supaya tidak ada generasi yang mati akibat kebimbangan kita di tengah jalan. 

Belajar dari kisah Abram dan Lot berpisah yang ditulis di Kejadian 13:1-18.
13:1 Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. 
13:2 Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. 
13:3 Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, 
13:4 ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN. 
13:5 Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah. 
13:6 Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.

Disini titik permasalahan awal, karena Abram dan Lot masing-masing mempunyai kekayaan yang tidak bisa ditampung dalam sebuah negeri tempat mereka tinggal maka mereka memutuskan untuk berpisah supaya tidak ada perkelahian antara Abram dan Lot maupun para gembalanya.

Di ayat 9 dikatakan "Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.". Dari statement ini lahirlah 2 keputusan yang berbeda yang membuat hasil akhir yang beda pula

1. Keputusan Lot (Lot's decision)
"Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. -" (Kejadian 13:10)
Lot melayangkan pandangnya dan ia melihat bahwa semua baik, bahkan sampai Lot berkata "seperti taman Tuhan".

2. Keputusan Abram (Abram's decision)
"Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya." (Kejadian 13:14-15)

Ada 2 persamaan dari yang dilakukan Lot dan Abram yaitu mereka sama melayangkan pandang mereka untuk melihat negeri dimana tempat mereka akan tinggal. Namun ada 2 perbedaan yang sangat signifikan yaitu letak Tuhan dilibatkan di dalam keputusan mereka.
Banyak orang melihat sesuatu baik, seperti Martha yang melayani Tuhan, melayani Tuhan itu baik tapi apakah itu yang Tuhan mau? Lot juga mengalami apa yang dipandangnya baik bahkan dikatakan seperti taman Tuhan, tapi ternyata itu Sodom dan Gomora yang akhirnya dimusnahkan Tuhan. Jangan tertipu dengan yang terlihat baik. Tetapi jadilah seperti Abram yang melangkah ketika Tuhan berfirman. Kebimbangan untuk mengambil keputusan membuat banyak waktu yang terbuang dan yang paling buruk berakibat pada kematian rohani generasi yang dimuridkan. Kemaksimalan hidup dimulai dari keputusan awal yang melibatkan Tuhan

Berhenti melakukan sesuatu yang kamu anggap baik. Lebih baik mundur 1 langkah demi maju 10 langkah. Memulai semuanya dengan Tuhan di depan

Rabu, 03 Februari 2016

Tuhan "Sengaja"



Keluaran 13:17-18

1. Memaksakan standar Tuhan di hidup kita 
Tuhan sengaja membawa orang Israel melewati padang gurun padahal ada jalan yang lebih dekat, namun jalan terdekat mereka harus melewati bangsa musuh yaitu bangsa Filistin dan Tuhan sudah tau bahwa bangsa Israel akan kembali ke Mesir jika melewati bangsa musuh maka dari itu Tuhan membawa bangsa Israel melewati padang gurun
Dengan Tuhan memaksakan standar hidupnya pada bangsa Israel, Israel masuk ke padang gurun selama 40 tahun (namun tanpa melewati padang gurun, Israel tidak akan mengalami roti manna, mara dan elim sungai dengan air pahit dirubah menjadi air yang manis)
Perjalanan padang gurun berakibat matinya satu generasi pertama bangsa israel

2. Keberanian ilahi
Keluaran 6:27 – 7:7 (tentang Musa menghadap Firaun)
Musa diutus Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel dengan menghadap Firaun, namun Tuhan berfirman/berkata Tuhan akan mengeraskan hati Firaun, hati mana yang tidak takut apabila Tuhan berkata seperti itu. Namun keberanian Musa untuk melangkah itulah yang membuat bangsa Israel bebas.
Temukan Firaunmu dan hadapi, beranilah melangkah!!!

Rabu, 15 Juli 2015

Worthy of it All

All the saints and angels bow before Your throne
All the elders cast their crowns before the Lamb of God and sing

You are worthy of it all,
You are worthy of it all
You deserve the glory
For from You are all things,
And to You are all things,

Day and night, night and day, let incense arise
Day and night, night and day, let incense arise
Day and night, night and day, let incense arise
Day and night, night and day, let incense arise




Divine Courage

Ada sebuah laut dengan air yang keruh, kita tidak pernah tau apakah ada sesuatu yang berharga di dasar laut tersebut tanpa kita masuk dan berada di dasar laut tersebut.

Orang yang hanya melihat laut tersebut dari darat hanya bisa melihat air yang keruh tanpa melihat keindahan dasar laut tersebut. Laut yang keruh tersebut berbicara tentang kehidupan yang ada di dunia, kita adalah penyelam-penyelamnya Tuhan yang ditaruh Tuhan di dunia ini. Kita semua tau bahwa dunia hari-hari ini sudah semakin rusak, seperti sebut saja Amerika yang mengesahkan pernikahan sesama jenis di 50 bagian negara, seorang pembuat kue pernikahan harus membayar denda ketika dia menolak membuatkan kue pernikahan untuk lesbian (pembuat kue ini orang kristen yang taat), komunitas incest (hubungan cinta diantara saudara sekandung) di Jerman juga minta disahkan, dan masih banyak lagi. Hanya orang-orang yang melihat dari daratan akan bilang bahwa ini adalah akhir dari dunia, dunia tidak bisa lagi diselamatkan, tapi orang-orang yang menyelam sampai ke dasar laut yang keruh tersebut akan menemukan sesuatu yang "berbeda", bisa saja mereka menemukan mutiara yang kecil, tapi 1 butir mutiara itu berharga, paling tidak mereka menemukan harapan meskipun kecil di kedalaman laut tersebut.

Dibutuhkan keberanian untuk melangkah untuk menemukan harapan di tengah ketakutan.

Minggu, 08 Maret 2015

Akankah kita seperti Samuel?



Saat Samuel dipanggil (1 Samuel 3:1-11), Samuel tidak mengetahui bahwa yang memanggil Samuel adalah Tuhan. Karena saat itu firman Tuhan masih jarang dan penglihatan juga tidak sering (ayat 1), jadi waktu itu Samuel belum mengenal Tuhan. Banyak orang di dunia ini yang sama seperti Samuel, dipanggil Tuhan namun tidak mendengar karena orang itu jarang membaca firman/ibadah dengan kata lain orang tersebut BELUM mengenal Tuhan dengan baik. Hanya saja ada perbedaan orang di dunia ini dengan Samuel...


1. Samuel tinggal di Bait Allah dan kita tinggal di dalam dunia
Semakin kita menjadi serupa dengan dunia, kita semakin tidak mengenal Allah dan kehendak-kehendakNya (Roma 12:2). Bait Allah menandakan kekudusan dan kesucian, sedangkan dunia ini sudah bercampur dengan dosa dan lainnya. Oleh karena itu jadilah serupa dengan Allah supaya kamu bisa mendengar panggilan Allah meskipun kamu masih tinggal di dalam dunia

2. Samuel mempunyai Eli, sedangkan kita???
Samuel mempunyai bapak rohani seperti Eli yang menerjemahkan apa yang dialami Samuel tepat dengan yang Tuhan kehendaki (setelah 3x Samuel dipanggil barulah Eli mengerti bahwa Tuhanlah yang memanggil Samuel). Tapi seringkali kita tidak mempunyai figur Eli seperti Samuel, seringkali orang terdekat kita tidak bisa membantu kita dalam menemukan panggilan Tuhan dalam hidup kita. Oleh karena itu, jangan jauhkan hidupmu dari Bapa yang di surga lewat ibadah/persekutuan yang ada, mungkin bapak rohani/mentormu bisa membantu dalam menemukan panggilan hidup.

Intinya mau menjadi seperti Samuel keputusannya ada di tangan kita, maukah kita mendengar kehendak Tuhan dan tidak menjadi sama seperti dunia?? Setelah kita mendengar panggilan Tuhan, Dia akan mencurahkan isi hatiNya dan menuntun kita setelah ini apa yang harus kita lakukan... God bless all